Sisi Lain Kasus UNAS
Dari sekian berita maraknya demo penolakan naiknya harga BBM, dalam 2 hari ini kasus penyerbuan polisi ke kampus UNAS lah yang paling menyita perhatian. Memang kasus penyerbuan polisi ke kampus bukan kali ini saja, namun yang menarik dari kasus Unas adalah ditemukannya botol-botol minuman keras dan beberapa bungkusan ganja di dalam kampus.
Jika kita asumsikan polisi tidak merekayasa barang bukti itu, tentunya sangat disayangkan ditemukannya barang-barang haram itu. Coba bayangkan, kampus yang seharusnya menjadi tempat dimana sendi-sendi moral, budi pekerti, akhlak diagung-agungkan dinodai dengan aroma dan bau minuman keras. Bukankah apa yang sedang dituntut oleh para mahasiswa pendemo itu sesuatu yang mulia “membela dan memperjuangkan rakyat kecil”, bukankah perjuangan itu didasari akal dan jiwa yang sehat, tapi kenapa dilakukan dengan didahului menenggak minuman yang tidak sehat?
Saya berkeyakinan tidak semua mahasiswa itu “minum”, mungkin cuma beberapa gelintir saja, namun jika benar bahwa botol-botol itu punya mereka, maka yang lain kena getahnya juga.
Sebagai mantan mahasiswa yang dulu ikut dalam perjuangan reformasi tahun 98, memahami bahwa perjuangan mahasiswa pada umumnya tidak didasari karena adanya imbalan materi namun semata-mata karena idealisme. Oleh karena itu mari kita perjuangkan idealisme itu dengan cara-cara yang gentle dan sehat.
Filed under: Hikmah, Pendidikan | 14 Comments
Tags: BBM, Demo, Mahasiswa


















saya sangat tertarik membaca komentar anda di atas. sebagai seorang mantan mahasiswa, saya sangat menyayangkan komentar anda yang mengindikasikan bahwa mahasiswa UNAS menenggak dan meminum atau mengkomsumsi Narkoba atau minuman keras. Walaupun anda berkata hanya segelintir saja, tetapi anda dengan sangat yakin melakukan pembenaran secara pasti seakan-akan anda ada ditempat itu. perlu saya paparkan disini, saya rasa anda sebagai mantan mahasiswa yang katanya turut berjuang dalam reformasi, tidak melakukan analisi terlebih dahulu terhadap situasi dan keadaan pada saat itu. masa anda kaum intelektual, atau mantan intelektual bisa mengatakan pendapat hanya dari opini anda pribadi saja. bukti2 terakhir yang dihimpun oleh pers mahasiswa, banyak mahasiswa yg ditahan mengaku dipaksa mengakui bahwa mereka melakukan tindakan anarkis dan mengkomsumsi narkoba. Sekali lagi saya tegaskan, mereka dipaksa mengakui.
satu lagi, saya melihat penyerbuan ini penuh dengan rekayasa. pertama, aparat datang karena adanya laporan dari warga. sedangkan tindakan mahasiswa yang berdemo memang melakukan pembakaran ban, tetapi pada pukul 22.00. setelah tiu mahasiswa berorasi didalam kampus yang jaraknya dari rumah warga terdekat sekitar 1 km.bagaimana bisa orasi mahasiswa yang seadanya bisa terdengar seakan memakai sound sistem ribuan watt??
yang kedua, aparat datang dengan menyalahi prosedur. contohnya, tidak adanya tim negosiasi yang diterjunkan,melainkan langsung tim tameng,brimob serta polantas.
yang ketiga,berdasarkan kesaksian mahsiswa dan warga setempat, aparat tidak melakukan tindakan preventif, melainkan langsung melakukan tindakan represif. sehingga menyulut kemarahan mahasiswa.
yang kelima dan paling aneh, polisi menemukan narkoba serta botol-botol miras. jika anda melihat berita di TV, anda tentu melihat bentuk dan keadaan barang-barang tersebut. paket yang ditemukan, sangat besar dan sangat mencolok. disini jelas aparat meremehkan sistem keamanan kampus. dimana jika anda sendiri membawa paket tersebut, maka aparat kampus tidak akan bisa melihatnya. sedangkan botol2 tersebut jika diperhatikan, keadaan fisiknya bukanlah seperti botol2 yang baru saja dipakai, melainkan seperti botol2 sitaan yang lama disimpan.
itulah beberapa fakta yang saya kumpulkan dilapangan.
terlepas dari itu, tindakan penyerbuan tersebut atas dasar apapun tidak dapat dibenarkan, karena mahasiswa melakukan aksi didaerah otonom kampus.
atas dari itulah saya menyaran kan segenap orang-orang yang menyuarakan suara rakyat, dapat bertindak dan berpikir, serta menyatakan pendapat dengan akal sehat. selayaknya kaum intelektual, atau yang mengaku bekas kaum intelektual. apalagi yang mengaku mantan mahasiswa yang ikut perjuangan reformasi. hendaknya mengutarakan pendapat berdasarkan analisis serta bukti2 yang akurat. tidak berdasarkan opini atau keyakinan sendiri saja.
terima kasih.
Arie M.
Yth. Mas Arie M
Tindakan polisi yang represif dan menyerbu daerah otonom kampus UNAS bagaimanapun memang tidak bisa dibenarkan. Ironis, Polisi sebagai pelindung dan pengayom rakyat malah memerangi rakyat mereka sendiri. Tapi mahasiswa, dan saya sebagai mantan mahasiswa tentunya tidak boleh munafik kalo disebutkan bahwa “…tidak semua mahasiswa itu ‘minum’, mungkin cuma beberapa gelintir saja…” Kenyataan seperti itu memang benar adanya. Konsumen alkohol bukan melulu bandit, mahasiswa-pun banyak. Aktivis mahasiswa yang suka ‘nenggak’ juga tidak sulit dicari.
Artinya, sudah seharusnya mahasiswa yang ditahan polisi kita bela untuk dibebaskan, karena demo di dalam kampus bukanlah tindakan anarkis dan pelanggaran hukum, tapi kita juga tidak perlu membabi buta menangkis tuduhan “Mahasiwa nenggak”, karena kenyataan seperti itu biasa ditemui, walopun mungkin hanya segelintir. Segelintir mahasiswa yang “bau naga” tidak perlu ditutup-tutupi, tapi harus dijauhi, klo perlu disingkirkan dari kampus.
saudara kaptenpanda yang terhormat, sepertinya kita sepakat mengenai tindakan represif aparat kepolisiaan yang tidak dapat dibenarkan.
yang saya agak kurang setuju mungkin kembali adanya pembenaran dari anda mengenai adanya kegiatan minum-minum dan pesta ganja oleh mahasiwa pendemo unas. saya baru saja mendapatkan data2 baru, yang insya allah bisa dipercaya. dari 146 mahasiswa yang ditangkap aparat, sekitar 31 orang ditangkap karena anrkis, 3 orang memiliki ganja, dan sisanya akhirnya dibebaskan. sedangkan sehari sebelumnya, aparat mengeluarkan pernyataan bahwa dari tes urine yang didapat, ada 55 orang terbukti mengkomsumsi ganja. akan tetapi ketika dikonfirmasi oleh pihak rektorat serta pers dan mahasiswa, aparat tidak dapat menunjukkan bukti tersebut. bahkan belakangan yang masih ditahan hanyalh 31 orang yang diduga melakukan tindakan anarkis, serta 3 orang yang dikatakan memiliki lintingan ganja. sampai hari ini, aparat masih belum mau menunjukkan bukti akurat dari ke 3 orang tersebut. jadi yang saya simpulkan adalah, berdasarkan data2 yang ada, dugaan pesta narkoba angat meragukan. apalagi minuman keras. hal ini terbukti dari bebasnya ke 55 orang yang dikatakn telah mengkomsumsi ganja.
dan satu lagi yang ingin saya tekankan, disini kita membahas mahasiswa unas, bukan mahasiswa atau aktivis yang anda kenal atau katakan biasa meminum alkohol.
saya disini tidak membela siapa-siapa, saya hanya menyampaikan data yang saya dapat, sehinga tidak ada pengaburan kasus utama dari tindakan represif ke arah pengkriminalisasian mahasiswa oleh aparat.
saya juga menyesalkan reaksi mahasiswa yang membalas tindakan represif aparat, karena banyak pihak menderita kerugian. seperti para penduduk sekitar yang rumah pribadinya juga rusak akibat kericuhan tersebut.
jadi saya tidak bersifat munafik mengenai masalah ini, jika memang terbukti adanya kasus narkoba, saya juga akan mengutuk hal tersebut. akan tetapi saya mohon kepada saudara kaptenpanda, agar jangan dulu melakukan atau melempar pembenaran terhadap kasus narkoba yang dituduhkan kepada mahasiswa unas sebelum hal itu terbukti. sebaiknya dan sebijaknya kita menerapkan asas praduga tak bersalah, saya rasa anda mantan mahasiswa yang mengerti akan hal tiu kan??
seyogya nya kita melakukan tindakan tersebut, karena kita membahas mengenai kasus mahasiwa unas, bukan membahas aktivis seperti yang anda katakan di atas.dan kalaupun memang benar adanya yang anda katakan mengenai aktivis suka alkohol tersebut, apakah anda mempunyai bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan??agar hal ini tidak berakhir sebagai isu saja.
sekali saya mohon pada kawan kawan dunia maya, jangan sampai kita terkaburkan oleh kasus narkoba yang belum dapat dibuktikan oleh aparat secara kurat dalam usahanya melakukan pembenaran dalam tindakan represif mereka.
jangan sampai kita teralihkan oleh kasus yang belom jelas, sehingga kasus utam bisa kita lupakan.
terima kasih.
Arie M.
Saudara Arie M… Saya ucapkan terima kasih atas komentar dan konfirmasinya…
Dalam tulisan saya di atas, tidak ada justifikasi bahwa mahasiswa pendemo di unas itu benar2 minum/pakai ganja sebelum bentrokan itu terjadi. Saya hanya melakukan kajian pemberitaan di media massa, kasus ini kan pasti berkembang dengan temuan2 dan kesaksian baru sehingga bisa kita simpulkan apa yang sebenarnya terjadi.
Saya hanya berasumsi dengan syarat polisi tidak melakukan rekayasa barang bukti, jika seandainya memang barang bukti itu (botol miras dan ganja) ada di dalam kampus tentunya sangat disayangkan, kampus kan bukan tempat untuk bernarkoba.
Toh kemudian pihak rektorat mengklaim bahwa botol2 miras itu milik laboratorium Akademi pariwisata Unas, bisa dipahami, tapi bagaimana dengan ganja-ganja itu? apakah milik lab. akpar unas juga?
Dalam tulisan sy juga dikatakan, KALAUPUN ada mahasiswa yang “make” saya yakin hanya sebagian saja. Jadi segala kemungkinan itu bisa terjadi, apa anda bisa menjamin kampus unas itu bebas dari narkoba? apa setiap mahasiswa yang masuk kampus unas bisa dijamin bersih dari membawa barang2 haram itu, toh satpam kampus juga tidak melakukan penggeladahan kepada setiap mahasiswa kan?
Saya tidak bersuudzon dengan mahasiswa unas, namun kita juga jangan menutup mata dengan barang bukti yang ditemukan, dan saya berharap barang2 itu bukan punya mahasiswa, kalaupun iya itu punya oknum mahasiswa, dan jangan digeneralisir.
dalam komentar anda dari hasil investigasi, sepertinya anda tidak melakukan Cover Both Side, coba kumpulkan data dan fakta di lapangan jangan hanya dari sisi mahasiswa unas saja, pada saat kejadian ada banyak saksi misalnya penduduk sekitar kampus, para pedagang, atau bahkan polisi yang ada saat itu, betindaklah seolah-olah anda netral supaya mendapatkan informasi yang obyektif.
Oke, bagaimanapun juga saran dan komentar anda sangat berguna..
dalam hal ini saya sepakat bahwa :
1. Tindakan represif polisi tidak dapat dibenarkan, bagaimanapun juga kampus adalah wilayah otonom. seharusnya polisi melakukan tindakan preventif sebelum melakukan tindakan represif.
2. Tindakan mahasiswa yang mengganggu ketertiban umum, misalnya bakar ban di jalan, blokade jalan, merusak fasilitas umum juga tidak bisa dibenarkan, carilah jalan lain yang elegan dan terhormat, gunakan cara intelektual sesuai dengan predikat mahasiswa sebagai kaum intelek.
3. Sebagai mantan mahasiswa, saya berusaha untuk mengerti dan memahami idealisme mahasiswa sekarang dengan gejolak jiwa mudanya, teruskan perjuangan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan birokrasi yang mengatasnamakan kepentingan rakyat.
4. Mari kita ikuti kasus ini dengan kematangan dan pikiran jernih.
Salam,
Abusyafiq
saudara abusyafiq yang terhormat.
ke 4 poin diatas yang telah anda katakan, memang merupakan poin-poin yang harus kita mengerti dan sepakati.
tujuan dari k2 komentar saya diatas adalah hanya ingin agar kita dapat membedakan ke 2 kasus yang terjadi di unas.
kasus pertama dan utama yaitu tindakan represif aparat.
dan kasus ke 2 adalah penemuan narkoba yang diduga milik mahasiswa.
kasus ke 2, sifatnya disini adalah sebagai pemberat individual dari mahasiswa yang tertangkap. jadi bersifat sebagai tindakan kriminal individu, bukanlah antara kelompok mahasiswa berdemo dengan aparat. inilah yang harus kita bedakan.
karena terlepas dari kasus narkoba, yang sampai pada saat ini masih diusut dan diproses sehingga belum ada kepastian hukum yang jelas, kasusu pertamalah yang harus kita utamakan.
karena dari kasus pertama dapat disimpulkan bahwa aparat melakukan tindakan yang melanggar otoritas serta HAM. hal ini dapat membahayakan demokrasi di negara kita.
saya sangat menyesalkan tingkat kedewasaan aparat yang membalas tindakan anarkis dengan anarkis, bahkan lebih anarkis.
jadi saudara Abusyafiq dan kaptenpanda serta saya sepakat toh kalau kasus ini harus diusut tuntas??
ada lagi yang ingin saya bahas disini, bagaimana menurut pendapat anda mengenai pernyataan dari kapolri kita terhormat, bahwa tindakan perusakan dikampus unas adalah tanggung jawab peronel dilapangan, bukan lembaga atau pihak yang menjadi pimpinan mereka??
apakah menurut anda ini sebagai tindakan lempar batu sembunyi tangan atau pelepasan tangung jawab???
hidup mahasiswa!!!
jelas dan sangat terlihat bahwa botol vodka yang dibawa merupakan botol bekas dan tidak terlihat seperti baru diminum. menurut berita yang saya baca itu adalah dari lab mahasiswa jurusan pariwisata yang diduga hilang!!
waduh, kalo kaya gini caranya, semua orang bisa ditangkap dengan mudah tanpa alasan yang jelas!!
padahal polisi hidup dari pajak kita!!
kedewasaan berpikir!!!
hilang sudah!!!
Polisi pake tameng dan punya kuasa dan hak yang lebih dari sipil, tapi tolong jangan gunakan itu sebagai tameng atau alat pemukul mundur demokrasi!!!
hidup mahasiswa!!
saya adalah saksi dan korban dari kasus UNAS, inilah krono;ogis yang bisa saya gambarkan..
Pukul 3.30 saya tiba di kampus Unas, untuk melihat keadaan kawan-kawan dengan sebelumnya meminta izin dari orang tua saya, saya turun dari angkutan umum pertigaan jalan sawo manila, melihat aparat yang sedang berjaga-jaga, dengan peralatan lengkap seperti ketika kerusuhan, diantaranya terdapat kerumunan warga,
Ketika tiba didalam kampus, terlihat kawan-kawan sedang melepas lelah setelah melakukan aksi demontrasi menentang kenaikan harga BBM yang sudah diterapkan pada malam itu, diantara mereka ada yang sedang tidur-tiduran beberapa melakukan diskusi dihalaman kampus, sejenak saya diskusi, saya memutuskan untuk menuju ke Masjid Unas STA, untuk bersiap melaksanakan solat Subuh, yang dilakuan dengan berjamaah dengan Satpam Unas, selesainya saya berdoa, pukul 5 pagi diluar terdengar letusan yang ternyata mengeluarkan gas air mata, yang dimaksud untuk membubarkan mahasiswa yang ada, dan Polisi mulai berjalan maju untuk memasuki kampus, mahasiswa menghadang polisi dan aksi lempar-lemparan tak dapat dihindari, polisi menembakkan gas air mata kearah mahasiswa dan merangsek masuk kedalam, gas air mata tak hanya ditembakkan ke jalan depan kampus, namun juga didalam kampus, dan terdengar teriakan petugas, maju kalian!!. Maju Kalian!!,Motor kalian sudah kami hancurkan, salam mengejek dan terus mengejek, katanya satu, kok’ pada kabur, polisi terus menembakkan gas air mata, dan terdengan suara kaca pecah, dan suara dentuman-dentuman lainnya, saya spontan melihat aksi polisi yang sporadis melangkah lari kedalam kerumunan, saat itu saya lihat mahasiswa kocar-kacir dari serbuan aparat, yang menggunakan tameng, Pemukul, dan Senapan gas air mata, kami semua dikumpulkan di lapangan sepakbola, dan dianiaya oleh polisi yang hadir disana, ada polisi yang berteriak jangan di apa-apain namun sambil menginjak-injak kami, dengan sepatu boot mereka, pukulan mereka hantamkan kesana kemari dan saya terkena pukulan mereka, tak hanya itu, botol dipecahkan dikepala saya, dan beberapa hantaman kayu, lalu mereka menginjakan kaki di wajah saya, sambil beberapa menendang kaki, pinggul, punggung saya, saya hampir pingsan ketika ada petugas memukulkan tameng ke kepala saya, dan pukulan kedua berhasil saya tangkal dengan lengan saya yang ikut terluka, jari kaki saya pun diinjak, dan dipukul dengan tongkat, mahasiswa sudah meminta ampun namun mereka tetap membabi buta, salah satu oknum menodongkan senapan gas air mata ke kepala salah satu dari kami, kata oknum tersebut, saya melihat badan roboh di hadapan saya namun tetap dipukuli tanpa belas kasihan, ketika ada kabar, Kapolres datang dari salah satu mulut polisi, namun diantara mereka masih saja memukuli kami dengan brutal, setelah dipukuli kami dibariskan dengan sebelumnya mereka memaksa kami untuk melepaskan pakaian dan meninggalkan tas kami, ketika dibariskan untuk dimasukkan kedalam Truk mereka Memukuli kami juga, darah ada dimana-mana, kami dimasukkan kedalam truk dengan jalan jongkok padahal kawan-kawan banyak yang terluka parah dan kaki mereka dipaksa untuk melakukan itu, Polisi tampak menikmati keadaan itu, dengan mengejek kami, meludahi, dan tertawa, kami diperlakukan seperti hewan tanpa perasaan, saya hanya terdiam didalam truk sambil berusaha untuk melakukan kontak dengan ponsel yang terselamatkan dari kantong saya.
Setibanya kami di Polres Jakarta selatan kami dipaksa melompat dari Truk untuk dibariskan, kami dibawa kelantai 3, lalu kemudian kembali dikumpulkan di AULA POLRES, dipisahkan mana yang mahasiswa UNAS, Alumni, Masyarakat dan kampus lain, dan saya melihat jelas senyuman satir dari wajah petugas yang melihat kami, ketika Kapolres datang, dia memberikan ceramah singkat, saya tak terlalu mendengarkan apa yang dia katakan hingga datang air minum gelas Aqua dan nasi bungkus yang tak dapat saya makan karena wajah saya yang bengkak tak memungkinkan untuk dimasukkan makanan, layaknya penjahat kasus krinminal kami dipaksa untuk cap sidik jari dan diambil foto, setelah itu kami dipisahkan menuju ruangan yang terdiri dari sepuluh orang-sepuluh orang, sepanjang ruangan saya melihat kawan-kawan yang terluka parah, ada yang hidungnya terus mengeluarkan darah, ada yang terus memegang kepala yang bersimbah darah, dan ada yang tak sadarkan diri, mereka didiamkan cukup lama untuk mendapat perawatan intensif, mata saya mulai tak dapat melihat dengan jelas, entah akibat pukulan atau saya terlalu lelah karena menahan sakit pukulan-pukulan yang saya terima dari polisi, setibanya kami di ruangan petugas didalam mengejek kami tanpa henti saya terdiam dan terduduk lesu, saya berpikir inikah gambaran dari motto polisi yang katanya melayani dan mengayomi masyarakat, mereka lebih terlihat sebagai manusia rendah tanpa perasaan, lalu petugas senior yang ternyata seorang IBU, mendatangi kami lalu mengatakan sebaiknya kalian mengaku saja, bila kalian mengaku kalian akan dibantu untuk keluar, namun saya tetap pada pendirian saya, penyidik yang menginterogasi saya menayakan secara terus menerus dan berulang-ulang pertanyaan yang sama, yang saya pahami untuk membuat penekanan pada kami, pihak LBH datang lalu mengambil gambar luka-luka yang kami derita dan meminta kami untuk menuliskan nama kami disertai luka yang kami derita, setelah itu mereka dipaksa keluar oleh aparat, dan salah satu dari alumni Unas yang datang untuk melihat keadaan kami berteriak, IYA!!, SAYA KELUAR TAPI JANGAN TARIK-TARIK SAYA BEGITU DONG!!, kita dapat melihat bagaimana mereka terhadap sipil saja seperti itu, dimana melayani dan mengayomi?, saya ditanya namun saya jawab apa adanya, kronologis kejadian yang saya lihat dengan berulang-berulang kali juga, saya lalu dibawa kelantai 4 untuk melakukan tes urine, dan petugas mengejek jangan-jangan dicampur air keran lagi, saya membalas bapak kan lihat saya dan kelamin saya ketika saya mengeluarkan urine kenapa bapak tak halangi saya ketika melakukan itu, Petugas itu terdiam, dan hasil tes urine saya Negativ, untung lah saya takut mereka mensabotase hasil tes saya.
Pada sore hari saya masih tak diizinkan bertemu dengan keluarga saya yang datang, saya bertemu mereka bila saya sedang keluar untuk menuju toilet dengan dikawal, setiap ada yang bertanya kenapa dengan wajah saya, saya menjawab sebaiknya jangan Tanya saya namun Tanya Polisi saja, mereka lebih tau..
Paginya setelah saya keluar dari klinik, dan menandatangani surat pembebasan dengan pengacara LBH, saya keluar dari kantor tersebut dan melihat teman saya beberapa ditetapkan sebagai tersangka, dan mereka yang ditetapkan sebagai tersangka adalah mereka yang percaya perkataan petugas bila mereka akan dibantu keluar secepatnya bila mengakui tuduhan tersebut, Terima kasih Ya Allah engkau melindungi Hambamu, Lindungilah mereka, dan berikanlah pada mereka semangat untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, Kawan-kawan saya, agar diberikan kesabaran , dan semuanya kembali kami serahkan padamu, sebagai yang Maha Bijaksana dalam mengatur Segalanya. Amin.
@ Saudara Arie M
Yups kita sepakat kasus penyerangan ini diusut sampai tuntas, agar bisa menjadi pelajaran bagi kita semua..
Mengenai penyataan kapolri, tolong diperdalam apakah memang Beliau berkata demikian…
kalaupun dia benar2 berkata itu patut disayangkan atau bahkan bisa dinilai kalau dia itu tidak professional..lepas tanggung jawab atau lempar batu? itu sudah jelas..
beliau kan pimpinan… ingat dalam prinsip militer/polisi kan di kenal “tidak ada prajurit yang salah, yang salah mah komandannya”.
Ada satu yang saya belum tahu, kenapa aparat tiba2 masuk menyerang ke kampus? apa tiba2 masuk begitu saja? atau ada penyulutnya? tolong cariin apa penyebabnya dari versi mahasiswa, kalau versi polisi kan udah jelas…
@ Saudara Andaulat Wicaksono…
Mahasiswa yang berjuang ntah di jalanan atau dimana saja.. perlu didukung apalagi perjuangan itu untuk kemaslahatan rakyat banyak, namun perlu dipikirkan cara terbaik, jangan sampai cara yang ditempuh mengganggu masyarakat, masyarakat itu juga kan rakyat…
@Saudara Sigit Kusumo Aji..
Saya terharu, sedih, prihatin dan simpati dengan apa yang anda alami… mudah2an anda cepat pulih dan tidak trauma berkepanjangan..
teruskan perjuangan… jaga nama baik mahasiswa….
sumpah !! saya udah kehabisan kata2 dari kalian semua .. dari bukti2 , kesaksian , sampai korbannyapun menceritakan .. saya sendiri mahasiswa unas ,, merasa bingung !! ini niihh ,, MAHASISWA ,, ini niihh ,, POLISI .. aduwh .. luu semua pada mikir gag cii .. yang salah maupun yang gag salah dah bikin guw nangis .. jangankan guw ,, temen2 guw yang satu kampus ,, n kluarga guw yang cuma bisa liat di tv jg ikut nangis .. kalian smua cm bs ngadu ke TUHAN .. luu smua mow ngadu ke presiden ?? ,, sadar buu , emang presiden ngurusin ini doank ..!! guw cm bs blg k luu2 smua .. kl misal’y nii kasus udh terbukti syapa yg bersalah ,, guw harap nii sbagai pembelajaran wat qt2 smua .. jgn saling nyalahin .. tp saling dukung .. guw saiiang m tmn2 di kampus .. guw jg saiiang m polisi2 indonesia .. tolong donk .. kerjasamanya .. tolong jg donk rasa cinta luu smua ma nii negara ..
saudari pien yang baik.
saya juga mahasiswa unas fisip hi angkatan 04.
dari apa yang anda utarakan diatas, anda msih terlihat terbawa emosi sehingga anda tidak dapat melihat dengan akal sehat apa apa yang ada diatas.
tindakan kawan kawan diatas, tidak lain tidak bukan hanya membeberkan fakta.
apakah anda sebagai mahasiswa dapat membedakan gerakan akibat pemikiran mendalam yang dilakukan oleh kawan kwan kita diunas??
atau anda hanya bisa menangis dan menangis.
sadarkah anda??
tindakan kawan kawan diatas yang membeberkan fakta yg didapat lebih mulia daripada hanya nangis nangis.
kita semua tahu, bapak presiden kita tidak hanya ngurusin kasus ini. bahkan saya bisa bilang, dia TIDAK ngurusin ksus ini.
asal anda tau saja, kawan kawan kita melakukan aksi seperti sekarang bukan karena iseng, tapi karena kita kita sayang sama ni negara.
jadi, sebelum anda mengharuskan kita sayang ma ni negara, tanya dulu diri anda sendiri.
apakah hanya dengan menangis saja bbm akan turun??
apakah dengan menangis saja kawan kawan kita mendapatkan keadilan??
dan asal anda tahu saja, kami memang ngadu ke tuhan, tapi kami secara nyata juga mengadu ke presiden sampai kampus kita porak poranda.
jadi tolong jangan menghakimi siapa2 jika anda sendiri saat ini hanya bisa menangis dan menangis saja.
beberan fakta diatas bukan untuk menyalahkan siapa2, melainkan untuk menunjukkan situasi yang sebenarnya, tanpa ada niatan untuk membuat lebih runyam.
sadarkan diri anda dari emosi yang berlebihan, berpikirlah dan pandanglah segala sesuatu dengan akal sehat.
tapi saya setuu dengan anda, kerjasama sangat dibutuhkan di negara ini.
tetapi alangkah bijaknya jika kerja sama itu tidak menyengsarakan rakyat.
terima kasih.
iia .. pien akuin .. pien mang cengeng .. tapi kan pien cm mow ngelurin uneq2an aja .. bentar lg Dimz mow jd alumni .. nanti kl dah kluar dr unas jng jd polisi yaaaaaa .. makaciii
saya ragu kalo demo unas tidak disertai mabuk2an.. tdak smua orang nganggep minun2an keras ato “make” tu haram.
Yth. Sdr. Arie M
Dengan hormat,
Terima kasih atas perhatian anda terhadap komentar saya. Terima kasih juga atas argumen² yang anda sampaikan dengan berbagai bukti pendukungnya. Saya salut anda berargumen dengan mengedepankan bukti².
Mengenai penjelasan anda agar diskusi tidak keluar dari konteks kasus UNAS, saya setuju. Benar apa yang anda sampaikan, bahwa dalam kasus tersebut, apabila sesuai dengan bukti² yang anda miliki, bahwa ternyata polisi tidak dapat membuktikan kepemilikan “barang² haram” tersebut berarti memang ada indikasi pihak² yang ingin mengaburkan fokus masalah tersebut. Saya setuju agar fokus masalah adalah pada penyelesaian pertanggungjawaban aparat kepolisian atas tindakan mereka.
Mengenai pendapat saya tentang adanya aktivis ataupun mahasiswa yang dekat dengan “barang² haram” tersebut memang tidak bisa dijadikan landasan untuk menggeneralisir kasus UNAS. Saya mohon maaf apabila disini terjadi salah tafsir. (Sedikit keluar dari konteks) Yang sebenarnya ingin saya sampaikan hanyalah realita bahwa di kehidupan kampus fenomena mahasiswa dekat dengan kegiatan negatif, baik aktivis maupun bukan aktivis itu adalah ada, dan dengan mudah dapat saya tunjukkan. Mohon maaf bila menurut anda argumen saya ini bukan seperti yang dinamakan sebagai “bukti otentik”. Sekali lagi mohon maaf bila saya keluar konteks, pendapat saya yang terakhir ini bukanlah untuk mengacu kasus UNAS.
Sekali lagi terima kasih kepada sdr. Arie M, semoga informasi yang anda sampaikan berguna, paling tidak berguna buat saya yang jauh dari TKP.
regards,
kaptenpanda
sebenarnya qta terlalu sibuk dengan siapa yang salah dari masalah ini tanpa INTEROSPEKSI keadaan bangsa qta. Mulai dari kasus UNAS, Artalita Suryani dengan JAKSA, Lapindo yang tak kunjung ada penanggulangannya dan banyak lagi kejadian lainnya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada BANGSA qta tercinta ini?
Mungkin menurut saya qta ditegur oleh TUHAN yang lebih menTUHAN khan UANG yang imbasnya menghalalkan segala demi TUHAN barunya dan fenomena ini menjurus kearah PENURUNAN MORAL bangsa.
-THANKS-